Era Internet dan Informasi Kesehatan: Perilaku Pengguna, Kualitas Informasi, dan Tantangan Untuk Profesional Kesehatan

Disarikan dengan beberapa modifikasi dari artikel saya yang dimuat di Proceeding The 2nd Annual International Conference of Northeast Pharmacy Research 2010, Mahasarakham University Thailand.

Artikel ini dilatarbelakangi oleh makin meningkatnya jumlah pengguna internet,yang saat ini telah mencapai angka 25 % dari populasi dunia (survei September 2009, tersedia di http://www.internetworldstats.com/stats.htm). Juga adanya fakta bahwasannya terdapat persentase yang cukup besar, antara 20-80% (diambil dari beberapa hasil survei) dari pengguna yang menggunakan internet untuk mencari informasi ataupun beraktifitas terkait dengan masalah kesehatan.
Secara umum, kita mengetahui bahwa bidang kesehatan, seperti bidang2 lainnya, adalah bidang yang didasari oleh basic ilmu yang spesifik. Di sisi lain, internet merupakan media yang bersifat tak berbatas, terbuka/ public environment forum sehingga dapat memunculkan variabilitas dalam hal kualitas informasi dan pelayanan. Oleh karena itu, perlu diketahui bagaimana perilaku pengguna dalam mencari informasi kesehatan di internet; kualitas informasi kesehatan di internet; dan tantangan profesi kesehatan untuk menghadapi era ini.
Metode: review, menggunakan kata kunci: “internet”; “health information”; “patient behaviour” pada database PubMed and Science Direct, dan juga penelusuran tunggal dari artikel relevan yang terdapat pada daftar pustaka tiap artikel
Hasilnya adalah:
– Perilaku pengguna informasi kesehatan di internet
Saat ini muncul kebiasaan orang akan mencari informasi lebih lanjut tentang masalah kesehatan mereka sendiri dan masalah kesehatan orang2 yang mereka cintai (anak atau orang tua mereka) lewat internet. Dalam melakukan aktivitas pencariannya, sebagian besar menggunakan search engine (seperti google, yahoo, bing, dll) ketimbang mencari di situs kesehatan secara langsung. Setelah muncul hasil/keluaran/result dari search engine, biasanya mereka hanya menelusur ke beberapa link/tautan awal yang muncul pada halaman awal. Kebiasaan lain adalah, pengguna sangat jarang melakukan konfirmasi terhadap status situs yang dibukanya (terkait dengan latar belakang author atau pemilik situs; disclaimer statement, contohnya pernyataan dari author untuk berhati-hati (with caution) ketika pembaca ingin menerapkan rekomendasi yang diberikan oleh author).
– Kualitas Informasi
Berbicara masalah kualitas, maka yang harus dipertanyakan adalah parameter yang digunakan untuk mengukur kualitas. Dalam hal pengukuran kualitas informasi kesehatan di internet, saat ini tersedia beberapa tools. Untuk pembahasan lebih lanjut mengenai tools tersebut, silahkan menuju ke http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1122517/?tool=pubmed
Banyak penelitian yang kemudian dilakukan menggunakan tools tersebut untuk menilai kualitas informasi kesehatan secara spesifik (berdasarkan penyakit tertentu) ataupun informasi kesehatan secara umum. Tools di atas sendiri merupakan tools yang sifatnya umum. Beberapa penelitian mengembangkan sendiri tools yang lebih spesifik untuk menilai kualitas informasi kesehatan pada bidang tertentu. Kombinasi dari beberapa tools juga digunakan pada beberapa penelitian. Hasilnya adalah adanya variasi kualitas dari informasi kesehatan yang tersedia di internet.
Hal lain yang menarik adalah kualitas informasi di English Wikipedia. Mengapa perlu mengkhususkan mencari tahu kualitas informasi kesehatan di Wikipedia ? ini berkaitan dengan perilaku pengguna yang telah dijelaskan sebelumnya. Sebagian besar pengguna akan membaca secara detai keluaran awal yang dihasilkan oleh search engine. Dan situs manakah yang hampir selalu menjadi keluaran nomor satu ? ya, anda benar, Wikipedia.
Beberapa penelitian dilakukan untuk menilai kualitas informasi di English Wikipedia. Hasilnya adalah, dari 3 hasil penelitian yang terdapat dalam artikel ini, 2 penelitian menyatakan bahwa informasi di English Wikipedia 100 % akurat. Hanya saja, ada keterbatasan dalam kelengkapan informasi yang diberikan oleh situs ini. Untuk pembahasan lebih lanjut tentang isu inisilahkan bisa dilihat pada note saya di facebook http://www.facebook.com/note.php?note_id=237482564091
Pertanyaan berikutnya adalah, apakah ada dampak yang negatif terkait dengan variabilitas informasi kesehatan di internet ? Asumsinya adalah terdapat hubungan antara kualitas informasi dengan potensi merusak yang akan ditimbulkan oleh informasi tersebut. Juga, hubungan antara “kualitas” pemahaman pengguna informasi dengan potensi merusak yang akan ditimbulkan oleh kesalahpahaman pengguna informasi tersebut terlepas dari baik tidaknya kualitas informasi itu sendiri. Bukti mengenai dampak negatif penggunaan informasi kesehatan di internet tidak banyak. Hal ini mungkin disebabkan rendahnya angka pelaporan (under-reported) mengenai hal tersebut. Beberapa artikel yang melaporkan dampak ini antara lain: emotional harm sebagai akibat kesalahan dalam memperoleh informasi; di kasus lain dampaknya lebih parah, hingga menyebabkan hepatorenal failure pada orang tersebut.
– Tantangan untuk profesional kesehatan
Penggunaan internet terkait dengan masalah kesehatan dapat terbagi dalam 3 cara: – mencari informasi kesehatan sebelum atau sesudah menemui profesi kesehatan,atau ketika dihadapkan pada masalah kesehatan; – konsultasi secara langsung kepada profesional kesehatan melalui media internet; – berpartisipasi dalam e health program.
Kemudian bagaimanakah “role” yang mesti kita mainkan selaku profesional kesehatan ?
* Jangan terkejut jika suatu saat pasien akan mendatangi kita dengan membawa sebendel artikel dari internet. Saat itu, status pasien sudah berubah dari pihak yang pasif menjadi pasien yang aktif, dan kita musti merespon dengan bijak terhadap tipe pasien seperti itu. Hubungan antara pasien/klien dengan profesional kesehatan mesti juga termasuk di dalamnya kolaborasi dalam mencari dan menganalisis informasi yang berasal dari internet.
* Penggunaan media seperti email, blog, dan social network (Facebook, MySpace, Twitter) dalam hubungan antara pasien/klien dengan profesional secara langsung terus mengalami peningkatan. Yang perlu menjadi pertimbangan adalah masalah etik, legal, kemungkinan misinterpertasi, sampai sistem pembayaran. Profesi kesehatan dapat menggunakan media di atas sebagai jalan untuk mempromosikan dan membangun “branding” pelayanan kesehatan yang kita miliki. Namun, media tersebut jangan sampai digunakan untuk mendiskusikan kasus secara individu dan memberikan saran kepada pasien untuk satu kasus tertentu.
* Internet juga dapat dijadikan media untuk men”delivery” suatu intervensi tertentu (E health program). Beberapa penelitian mencoba mengukur efektivitas metode ini dibandingkan dengan metode-metode konvensional. Beberapa internet-based program terbukti memiliki hasil positif, seperti program penggunaan internet untuk memperbaiki kondisi pada kelompok high blood presure dan obesity. Yang perlu menjadi catatan, untuk membuat internet-asisted program agar berhasil, program tersebut mestinya terintegrasi dengan existing clinical practice structures.

Kesimpulannya: Internet dapat digunakan sebagai media pencarian informasi kesehatan,media konsultasi secara langsung, dan media untuk men”delivery” suatu intervensi tertentu. Faktanya adalah, terdapat variabilitas terkait dengan kualitas informasi kesehatan dan juga variabilitas kepemahaman terhadap informasi yang ada. Komunikasi dan kolaborasi antara pasien/klien-profesional kesehatan perlu dibangun untuk menghindari dampak negatif penggunaan internet dalam masalah kesehatan, sekaligus untuk dapat memanfaatkan internet dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.

Future direction:
– Penelitian mengenai internet dan kesehatan bisa dijadikan salah satu area penelitian yang menarik.
– Pendidikan mempunyai peranan penting untuk menyiapkan profesional kesehatan yang cakap menghadapi era ini. Beberapa topik, seperti ‘health informatics’ or ‘patient informatics’, mestinya terintegrasi dalam pendidikan calon profesional kesehatan ataupun pendidikan berkelanjutan profesional kesehatan.

Referensi:
Purwonugroho, TA, Internet Era and Health Information: Consumer Behaviour. the Quality of Information, and Challenge to Health Care Provider, 2010, Proceeding The 2nd Annual International Conference of Northeast Pharmacy Research 2010, p 81-85

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: